Mengenal Pokok Pikiran Soekarno dalam Sejarah Lahirnya Pancasila

Berdasarkan penelusuran sejarah,  Pancasila tidaklah lahir secara mendadak pada tahun 1945, melainkan melalui rentetan proses panjang dalam perumusan hingga penetapannya menjadi  ideologi dan dasar negara. Setidaknya sejak awal 1990-an dalam bentuk rintisan gagasan untuk mencari sintesis antar ideologi gerakan seiring  proses penemuan  Indonesia sebagai kode kebangsaan bersama (civic nationalism). Proses ini ditandai dengan kemunculan  berbagai organisasi pergerakan kebangkitan (Boedi oetomo,  Muhammadiyah, Perhimpunan Indonesia dan lain-lain), partai politik (seperti Indische partji, PNI, dan PSII), serta sumpah pemuda.

Perumusan konseptualisasi pancasila dimulai pada masa  persidangan pertama BPUPKI pada tanggal 29 Mei-1 Juni 1945. Dalam menjawab permintaan ketua BPUPKI, Radjiman Wedyodiningrat, mengenai dasar negara Indonesia merdeka, puluhan anggota BPUPKI berusaha memberikan gagasannya, yang kebanyakan pokok gagasannya sesuai dengan  satuan-satuan  sila pancasila. Rangkaian ini ditutup dengan pidato Soekarno (1 Juni) yang  menawarkan lima prinsip dari dasar negara yang diberi nama Panca Sila. 

Rumusan Seokarno kemudian digodok melalui panitia delapan  yang dibentuk  oleh ketua sidang BPUPKI. Kemudian membentuk panitia sembilan  yang menyempurnakan rumusan pancasila dari pidato Soekarno ke dalam rumusan versi Piagam Jakarta  pada 22 Juni 1945. Fase pengesahan dilakukan tanggal 18 Agustus 1945 oleh  yang menghasilkan rumusan final Pancasila yang mengikat secara konstitusional dalam kehidupan bernegara.

Dalam proses perumusan dasar negara, Soekarno memiliki peran yang sangat penting. Dia berhasil mensintesiskan berbagai pandangan yang telah muncul dan orang pertama yang mengonseptualisasikan dasar negara itu ke dalam pengertian "dasar falsafah" (philosofische gronslag) atau pandangan komprehensif dunia (weltanschauung) secara sistematik dan koheren.

Dalam rumusannya tentang dasar negara, Soekarno  merumuskan lima prinsip tentang konsep pancasila. Berikut kelima prinsip disertai dengan pidato soekarno yang menjelaskan satu persatu tentang prinsip tersebut;

1. Kebangsaan Indonesia

Baik saudara-saudara yang bernama  kaum bangsawan yang di sini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum islam, semuanya telah mufakat... kita hendak mendirikan suatu negara `semua buat semua`. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan maupun golongan yang kaya, tetapi  `semua buat semua` " Dasar pertama yang baik dijadikan dasar buat Negara Indonesia adalah dasar kebangsaan." 

2.   Internasionalisme, atau Peri-kemanusiaan

Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme... kita harus menuju persatuan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan Negara Indonesia merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa.

3. Mufakat atau Demokrasi 

Dasar itu adalah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan... kita mendirikan negara `semua buat semua`, satu buat semua, semua buat satu. Saya yakin , bahwa syarat  yang mutlak untuk kuatnya Negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan... apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di  permusyawaratan.

4. Kesejahteraan Sosial 

Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial... oleh karena itu jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencintai rakyat indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtavaardigheis ini, yaitu bukan saja persamaan politik saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan  bersama yang sebaik baiknya.

5. Ketuhanan yang Berkebudayaan 

Prinsip Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa... bahwa prinsip kelima daripada negara kita adalah ke-Tuhanan yang berkebudayaan, ke-Tuhanan yang berbudi pekerti luhur, dan ke-Tuhanan yang hormat-mengormati   satu sama lain.

Mengapa dasar negara yang menyatukan dan menjadi panduan itu dibatasi lima? Jawaban Soekarno saat itu bahwa selain kelima unsur  itulah  yang memang berakar kuat dalam jiwa bangsa Indonesia, dia juga mengaku suka pada simbolisme angka lima. Angka lima memiliki nilai "keramat" dalam antropologi masyarakat Indonesia. Soekarno menyebutkan, Rukun Islam lima jumlahnya dan Jari kita pun lima setangan.

Demikianlah pada tanggal 1 Juni 1945 itu, Seokarno mengemukakan pemikirannya tentang pancasila, yaitu nama dari lima dasar negara Indonesia yang diusulkannya  berkenaan dengan permasalahan  di sekitar dasar negara Indonesia merdeka. Pokok-pokok  pikiran dalam pidato Soekarno pun diterima secara aklmasi (Penyataan setuju secara lisan oleh peseta rapat atau forum).

Anti Kopas