Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru (Pedagogik, Kepribadian, Sosial, Profesional)

Pexels.com/Andrea Piacquadio

Ungkapan "Pahlawan tanpa tanda jasa" sekiranya memang patut disematkan untuk profesi keguruan. Tuntutan dalam mencapai kata "Mencerdaskan" bukan perkara mudah untuk dilakukan. Selain memberikan pengetahuan melalui pengajaran, seorang guru juga dituntut untuk menanamkan nilai positif sesuai dengan profil pelajar pancasila yang merupakan salah satu fokus yang ingin dicapai pemerintah saat ini. Seorang pendidik tak hanya dibebani dengan tuntutan legal formal pemerintah terkait kebijakan-kebijakan soal pendidikan, apa yang harus dicapai dan bagaimana cara mencapainya, tetapi juga ada beban moril untuk selalu berupaya meningkatkan kompetensi maupun kualifikasi (Profesionalisme)  dalam menjalankan profesinya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor  16 tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik  dan Kompetensi Guru dapat dijabarkan seperti berikut:

Standar Kualifikasi

Standar kualifikasi merupakan batas minimal tingkat pendidikan seorang guru dan atau calon guru sesuai dengan jenjang pendidikan yang akan diajarkan. Standar kualifikasi akademik guru dibagi menjadi dua, yaitu kualifikasi melalui pendidikan formal, dan kualifikasi melalui uji kelayakan atau kesetaraan. 

  1. Kualifikasi Pendidikan Formal    
  • Guru PAUD/TK/RA = Diploma empat (D-IV) atau Sarjana (S1) bidang pendidikan anak usia dini dan psikologi dari program studi terakreditasi .
  • Guru SD/MI = Diploma empat (D-IV) atau Sarjana (S1) bidang bidang pendidikan SD/MI (D-IV/S1 PGSD/PGMI)  dan psikologi dari program studi terakreditasi . 
  • Guru SMP sederajat= Minimal Diploma empat (D-IV) atau Sarjana (S1) sesuai bidang ilmu yang diajarkan, dan berasal dari program studi yang terakreditasi.
  • Guru SMA sederajat= Minimal Diploma empat (D-IV) atau Sarjana (S1) sesuai bidang ilmu yang diajarkan dan berasal dari program studi yang terakreditasi.
  • 2. Kualifikasi Akademik Guru Melalui Uji Kelayakan dan Kesetaraan 

    Uji kelayakan atau kesetaraan diberikan kepada calon pendidik yang memiliki kemampuan atau keahlian di suatu bidang tertentu dan layak untuk menjadi seorang pengajar, tetapi tidak memiliki sertifikat pendidikan formal (Ijazah). Wewenang pemberi predikat tersebut adalah perguruan tinggi

Standar Kompetensi

Standar kompetensi merupakan kemampuan dalam menguasai aspek-aspek yang berkenaan dengan tugas dari profesi keguruan. Secara umum, standar kompetensi guru terdiri dari empat kompetensi utama, mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD) sederajat, Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat, dan Sekolah menengah Atas (SMA) sederajat yang dijabarkan ke dalam beberapa kompetensi inti berikut:

Kompetensi Pedagogik

Pexels.com/Tima Miroshnickenko

Secara singkat, kompetensi pedagogik diartikan sebagai "Ilmu mendidik". Pedagogik  berasal dari bahasa yunani pedagogue yang berarti pembimbing pembawa anak, paes=anak,  paedo=anak laki-laki, dan agos=saya membawa. Selain itu, pedagogik juga dapat diartikan sebagai  ilmu tentang pendidikan manusia muda, hubungannya jelas dengan konteks pendidikan Indonesia dari anak usia dini hingga sekolah lanjutan atas. Kompetensi pedagogik terdiri dari:

  1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.
  2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
  3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.
  4. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik 
  5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik.
  6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
  7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik. 
  8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
  9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
  10. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. 

Kompetensi Kepribadian

Pexels.com/Max Pischer

Kompetensi kepribadian berkenaan dengan kemampuan guru dalam memberi contoh sikap yang baik kepada peserta didikya selama menjalankan tugas mendidiknya. Kompetensi kepribadian terdiri dari:

  1. Mencerminkan tindakan yang sesuai dengan  norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional indonesia
  2. jujur, berakhlak mulia dan menjadi contoh peserta didik
  3. kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa
  4. Menunjukkan etos kerja, tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.
  5. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Kompetensi Sosial

Pexels.com/Katerina Holmes

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru dalam menjalin interaksi dengan seluruh elemen yang terlibat dalam proses pendidikan, seperti orang tua siswa, dan tenaga kependidikan yang ada dalam sebuah lingkup sekolah. Hal itu penting karena pendidikan adalah sistem yang melibatkan banyak pihak, semakin baik interaksi atau hubungan yang dilakukan, maka semakin baik pula pencapian pelaksanaan pendidikan tersebut. Adapun beberapa kompetensi sosial yang mesti dimiliki pendidik adalah:
  1. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
  2. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
  3. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya. 
  4. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain. 

Kompetensi Profesional

Pexels.com/Max Pischer

Kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam menguasai bidang ilmu yang diajarkan, secara sederhana dapat pula dikatakan sebagai kekampuan menguasai materi ajar yang akan disampaikan ke peserta didik. Kompetensi ini terdiri dari:
  1. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.
  2. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.
  3. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
  4. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.
  5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.  
Itulah jenis kompetensi inti yang wajib dipahami dan dikuasai oleh guru dalam menjalankan tugasnya. Adapun jabaran indikator dari kompetensi tersebut, disesuaikan dengan jenjang atau tingkat pendidikan.

Advertise the footer of the article

Anti Kopas