Sejarah Kurikulum dan Urgensinya dalam Pendidikan

 

Ketika mendengar kata kurikulum yang selalu diidentikkan dengan pendidikan, salah satu dari kita mungkin pernah bertanya-tanya, apa sih itu kurikulum? dan apa kaitannya dengan pendidikan sehingga kerap kalli dua hal ini saling dikaitakan.

Kurikulum merupakan salah satu perangkat pendidikan yang memiliki peranan penting dalam sebuah pelaksanaan pendidikan. Kurikulum bertindak sebagai acuan dasar tentang arah, proses dan hasil yang ingin dicapai. Pencapaian tujuan pendidikan adalah salah satu alasan mengapa harus ada kurikulum.

Definisi Kurikulum

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) : kurikulum diartikan sebagai seperangkat mata pelajaran yang diajarkan pada Lembaga pendidikan atau perangkat mata kuliah mengenai bidang keahlian khusus.

Kamus Webster : Curriculum is a race cource, a place for running, a chario, and a course of study in a university. Bahwa kurikulum berarti jarak yang harus ditempuh oleh pelari atau kereta dalam perlombaan dari awal hingga akhir. Kalimat tersebut bermakna filosofis yang disesuaikan dengan konsep pelaksanaan pendidikan.

Selain dua definisi di atas, terdapat juga pendapat dari beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang kurikulum:

Zais : Kurikulum merupakan rencana pendidikan yang berisi sejumlah materi yang harus dikuasai peserta didik dan sebgai rencana terprogram yang berbentuk dokumen tertulis sehingga menjadi jelas dan sistematis setiap tahapan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan kurikulum itu.

Kelly : Kurikulum adalah perencanaan pembelajaran yang praktis, efektif dan produktif, menawarkan banyak konten pengetahuan atau mata pelajaran yang diajarkan atau ditransmisikan.

Sejarah Kurikulum

Kurikulum telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Hal tersebut karena memang dalam kurikulum ada istilah pengembangan dan evaluasi kurikulum, sehingga relevansi sebuah kurikulum dengan perubahan keadaan zaman akan terus berjalan beriringan.

Hari ini tak selalu sama dengan hari esok, begitu seterusnya akan terus ada perubahan yang mengikuti. Maka dari itu, pengembangan dan perubahan kurikulum juga akan terjadi secara berkelanjutan

Sejauh ini Perkembangan kurikulum sudah beberapa kali dilakukan, berikut perjalanan kurikulum dari awal hingga saat ini

1. Kurikulum 1947

Kurikulum 1947 dikenal dengan nama rencana pembelajaran. Kurikulum ini digunakan pada awal kemerdekaan sehingga masih ada pengaruh dari sistem pendidikan era kolonial. Sesuai dengan masanya, kurikulum ini diarahkan untuk menumbuhkan karakter bangsa merdeka yang bisa bersaing dengan bangsa lain yang ada dunia.

2. Kurikulum 1952

Kurikulum 1952 atau kurikulum rencana pembelajaran terurai merupakan hasil pengembangan dan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 1947. Perubahan yang terjadi terletak pada muatan materi pelajaran yang telah dirincikan atau diuraikan lebih spesifik, satu guru satu mata pelajaran. Selain itu ciri penekanan kurikulum ini adalah berusaha menghubungkan muatan materi dengan kehidupan sehari-hari. 

3. Kurikulum 1964

Kurikulum 1964 dikenal dengan nama rencana pendidikan. Dasar pengembangan kurikulum ini berawal dari program Pancawardhana yaitu program yang bertujuan untuk mengembangkan daya cipta, rasa, karya, dan moral. Rencana pendidikan 1964 juga membagi mata pelajaran ke dalam lima kelompok, yaitu Moral, kecerdasan, emosional, keterampilan, dan  juga jasmani.

4. Kurikulum 1968

Perubahan mendasar dari kurikulum ini adalah adanya pembaruan Panchawardhana menjadi pembinaan pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Tujuan kurikulum ini adalah membentuk jiwa pancasila, membentuk anak yang cerdas, bermoral tinggi, berbudi pekerti serta menjunjung tinggi akan keyakinannya terhadap agama.

5. Kurikulum 1975

Efektivitas dan efisiensi pendidikan menjadi dasar pengembangan kurikulum 1975 dikarenakan kurikulum 1975 diorientasikan pada tujuan. Perubahan yang nampak dari kurikulum ini adalah perincian metode, materi dan tujuan pembelajaran.yang lebih spesifik. 

6. Kurikulum 1984

Kurikulum 1984 berangkat dari pendekatan keterampilan proses dimana siswa bertindak sebagai subjek didik. Salah satu yang ditekankan dari adalah peran sekolah yang benar-benar secara fungsional dan efektif dalam memberikan pengalaman belajar kepada siswa karena waktu di sekolah sangatlah terbatas.

7. Kurikulum 1994

Kurikulum 1994 merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1984. Pada masa inilah terjadi perubahan sistem dari semester ke caturwulan. Perbedaan antar semester dan caturwulan terletak pada pembagian tahap proses pendidikannya selama satu tahun. Sistem semester dibagi menjadi dua tahap, sementara catuwulan dibagi menjadi tiga tahap. Alasan perubahan tersebut agar peserta didik memiliki waktu yang lebih banyak dalam menerima pelajaran

8. Kurikulum 2004

Kurikulum 2004 dikenal dengan nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Sesusai dengan namanya, KBK diharapakan mampu menghasilkan individu yang memiliki kemampuan melakukan kerja atau tugas tertentu secara dengan standar performance yang telah dtentukan.

9. Kurikulum 2006

Kurikulum 2006 dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Perubahan paling menonjol dari kurikulum sebelumnya terletak pada pemberian kewenangan yang lebih leluasa kepada sekolah dalam memebuat perencanaan pembelajaran sesuai dengan kondisi dan potensi yang ada di lingkungan sekitar sekolah atau tiap-tiap satuan pendidikan.

10. Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang sampai saat ini digunakan dalam sistem pendidikan kita. Secara konsep, kurikulum 2013 menekankan pada pencapaian peserta didik yang dapat secara seimbang memiliki hardskill dan soffkill yang baik. 

Untuk proses pembelajaran menggunaan scientific approach atau pendekatan ilmiah, dimana dalam pembelajaran siswa akan diarahkan pada lima tahapan belajar, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan materi pembelajaran.

Terakhir, untuk penilaian menggunakan penilaian autentik yang menilai secara utuh tiga aspek perilaku manusia berupa aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap),dan psikomotorik (keterampilan).

Komponen Kurikulum

Komponen kurikulum adalah hal-hal yang harus ada dan termuat dalam sebuah  kurikulum. Secara umum, komponen kurikulum terdiri dari Tujuan, isi, aktivitas belajar dan evaluasi

Tujuan

Setiap rumusan harus dilandasi dengan tujuan yang jelas sebagai arah dari sebuah penetapan, begitu juga dengan kurikulum harus punya kejelasan apa yang hendak ingin dicapai sehingga dalam pelaksanaannya tidak keluar dari apa yang semestinya.

Dalam tujuan kurikulum dibagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu aims (tujuan pendidikan nasional), Goals ( Tujuan institusional) dan Objectives (tujuan kurikuler).

Isi

Setiap kurikulum memiliki muatan tentang apa yang hendak ingin dilakukan oleh peserta didik untuk mencapai tujuan kurikulum. Salah satu contoh muatan kurikulum adalah adanya mata pelajaran sebagai bahan untuk melakukan proses pembelajaran di sekolah.

Aktivitas Belajar

Secara spesifik, aktivitas belajar yang dimaksud dalam hal ini adalah kegiatan belajar mengajar, dimana dalam kegiatan itu harus memenuhi beberapa hal agar pembelajaran dapat terlaksana. Contohnya, dalam kegaiatan belajar harus ada peserta didik sebagai objek didik, guru sebagai pendidik, media sebagai alat untuk menyampaikan apa yang disamapaikan guru ke peserta didik, kemudian metode sebagai cara guru dalam mendidik. Selain itu masih banyak unsur-unsur lain yang membantu dalam kegaitan belajar mengajar tersebut.

Evaluasi

Setiap penerapan akan selalu diakhiri dengan evaluasi, tujuannya untuk melihat tingkat ketercapaian atau keberhasilan dari kurikulum yang telah ditetapkan dan dilaksanakan.

Kegiatan evaluasi memiliki peranan penting untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang didaptkan melalui melalui Analisa Input, proses dan hasil kegiatan belajar mengajar.

Dari informasi tersebut, dapat dilakukan perbaikan secara tepat sesuai kekurangan yang telah dianalis.

Urgensi dan Fungsi Kurikulum

Keberadaan kurikulum merupakan konstruksi dan konsep pelaksanaan pendidikan sehingga dengan adanya kurikulum kegiatan-kegiatan pendidikan dapat dilakukan secara terencana, terstruktur dan jelas akan maksud dan tujuannya.

Sesuatu yang dilandasi dengan perencanaan dan pedoman yang jelas akan lebih mudah kita dapatkan ketimbang sesuatu yang tanpa menggunakan kedua hal tersebut

Salah satu ahli di bidang kurikulum, Neil membagi fungsi kurikulum ke dalam empat hal yaitu:

  • Pertama, bahwa kurikulum diperuntukkan untuk menyiapkan peserta didik menjadi pribadi yang baik serta memiliki jiwa tanggung jawab.
  • Kedua, kurikulum sebagai suplementasi, yaitu alat pendidikan yang digunakan untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik dalam menajalani proses pendidikannya
  • Ketiga, kurikulum sebagai eksplorator yang mampu menggali bakat dan minat tiap-tiap peserta didik
  • Dan yang keempat bahwa kurikulum berfungsi untuk mengembangkan keahlian peserta didik sesuai dengan bakat dan minatnya.

Selain itu peranan kurikulum juga dapat dibedakan kedalam 3 hal,

  • Peranan konservatif, kurikulum sebagai alat untuk mempertahankan dan mewariskan budaya masyarakat kepada generasi muda, dalam hal ini peserta didik.
  • Peranan kreatif, kurikulum berperan sebagai alat untuk mengembangkan hal-hal baru sesuai peradaban dan tuntutan zaman. Makanya dalam pengembangan kurikulum, salah satu prinsip pengembangannya adalah prinsip relevansi, yaitu prinsip yang selalu melihat kondisi kontemporer dari suatu peradaban
  • Yang terakhir, kurikulum memiliki peran kritis evaluatif, yaitu melihat nilai dan kebudayaan yang harus dipertahankan dan perihal baru yang harus dimiliki peserta didik

Ketiga peranan tersebut dikemukakan oleh Hamalik. 

Anti Kopas